Saat senja mula melabuhkan tirainya,
Kala unggas mula pulang ke singgahsana,
Gelap gelita mula menjelma,
Di ufuk TImur terbit sang purnama,
Seri wajah berwarna jingga.
Purnama malap pudar sinarnya,
Malam suram sunyi dan sepi,
Umpama hati ini yang sedang rawan,
Kosong terbiar tidak berteman,
Jiwa resah tidak berpedoman,
Tatkala gelap gelita alam,
Bintang bersinar di puncak semesta,
Kejoranya berkilau bagai mutiara,
Mungkin penerang hati yang lara,
Sang bintang tetap setia di atas ,
Walaupun bulan tidak berseri,
Menghias angkasa segenap ruang,
Meskipun pungguk terus menyepi.
Diri ini umpama pungguk,
Duduk bertenggek ditepian ranting,
Ditiup angin bayu berpuput lembut,
Sayu disapa semilir dingin,
Menanti terbit purnama malam,
Mengharap bulan jatuh ke pangkuan.
Mungkin tiba masanya,
Pungguk tidak bernyanyi lagi,
Jika sudah sampai waktunya ,
Pungguk pergi seorang diri ,
Walaupun bulan kan bersinar lagi,
Sudah terlambat untuk menghiasi,
Kamar yang luput dan tawar hati ~
epy >..<"
sedihnya bila baca sajak ni..
ReplyDelete:(
zzz.. sedih ke ? huhu
ReplyDeletetersentuh haty..byk maksud tersirat..
ReplyDeleteyee...smuanya tersirat......
ReplyDelete