Wahai teman,
Berikanlah aku secebis ruang,
Untuk menyatakan hasrat yang lama bersarang,
Meluahkan rasa yang lama terpendam,
Jangan biarkan hingga usang,
Usah abaikan sehingga gersang.
Di sudut hati ini tersimpan satu rasa,
Haya yang mengerti cuma aku dan Ia,
Seraut wajah mencermin seribu madah,
Sebuah kisah meniti hari-hari pasrah,
Entah bila dan dimana titik noktah bakal menjelma,
Entah kerana apa dan mengapa cerita kita hanya seketika,
Duhai teman,
Dengarkanlah coretan laraku ini,
Catitan ceritera antara kita bersama,
Impian diharap tinggi menggunung,
Kini runtuh ranap menimpa cerun,
Cuma yang tinggal hanya hikayat didinding lamun.
Kini temenung aku dibalik tirai,
Ditemani jasad yang lemah longlai,
Mungkin menunggu masa rebah,
Tersungkur diri menyembah tanah,
Berakhirlah riwayat pelaku kisah.
Moga dengan doa kalian bisa buat aku tenang,
Moga berkat maafmu bisa buat aku lapang,
Moga aku peroleh rahmat dan ampunMu Tuhan,
Andai suatu nanti kita bersua semula,
Kuharap kita bisa berbicara walau seketika cuma ...
>..<" epy~
Dari titisan airmata kita belajar MENGERTI Dari rasa khuatir kita belajar PERCAYA Dari rasa kehilangan kita belajar MENGHARGAI Dari rasa bersalah kita belajar MEMAAFKAN Dari sebuah harapan kita belajar BERJUANG Dari sebuah perjuangan kita belajar BERKORBAN Dari sebuah pengorbanan kita belajar KETULUSAN
Thursday, 9 August 2012
Sunday, 5 August 2012
Purnama Pudar Seri
Saat senja mula melabuhkan tirainya,
Kala unggas mula pulang ke singgahsana,
Gelap gelita mula menjelma,
Di ufuk TImur terbit sang purnama,
Seri wajah berwarna jingga.
Purnama malap pudar sinarnya,
Malam suram sunyi dan sepi,
Umpama hati ini yang sedang rawan,
Kosong terbiar tidak berteman,
Jiwa resah tidak berpedoman,
Tatkala gelap gelita alam,
Bintang bersinar di puncak semesta,
Kejoranya berkilau bagai mutiara,
Mungkin penerang hati yang lara,
Sang bintang tetap setia di atas ,
Walaupun bulan tidak berseri,
Menghias angkasa segenap ruang,
Meskipun pungguk terus menyepi.
Diri ini umpama pungguk,
Duduk bertenggek ditepian ranting,
Ditiup angin bayu berpuput lembut,
Sayu disapa semilir dingin,
Menanti terbit purnama malam,
Mengharap bulan jatuh ke pangkuan.
Mungkin tiba masanya,
Pungguk tidak bernyanyi lagi,
Jika sudah sampai waktunya ,
Pungguk pergi seorang diri ,
Walaupun bulan kan bersinar lagi,
Sudah terlambat untuk menghiasi,
Kamar yang luput dan tawar hati ~
epy >..<"
Kala unggas mula pulang ke singgahsana,
Gelap gelita mula menjelma,
Di ufuk TImur terbit sang purnama,
Seri wajah berwarna jingga.
Purnama malap pudar sinarnya,
Malam suram sunyi dan sepi,
Umpama hati ini yang sedang rawan,
Kosong terbiar tidak berteman,
Jiwa resah tidak berpedoman,
Tatkala gelap gelita alam,
Bintang bersinar di puncak semesta,
Kejoranya berkilau bagai mutiara,
Mungkin penerang hati yang lara,
Sang bintang tetap setia di atas ,
Walaupun bulan tidak berseri,
Menghias angkasa segenap ruang,
Meskipun pungguk terus menyepi.
Diri ini umpama pungguk,
Duduk bertenggek ditepian ranting,
Ditiup angin bayu berpuput lembut,
Sayu disapa semilir dingin,
Menanti terbit purnama malam,
Mengharap bulan jatuh ke pangkuan.
Mungkin tiba masanya,
Pungguk tidak bernyanyi lagi,
Jika sudah sampai waktunya ,
Pungguk pergi seorang diri ,
Walaupun bulan kan bersinar lagi,
Sudah terlambat untuk menghiasi,
Kamar yang luput dan tawar hati ~
epy >..<"
Subscribe to:
Comments (Atom)